Masa lalu yang tak seharusnya
terlalu ku fikirkan sudah tertata rapi dalam memori yang tak akan bisa
terjangkau oleh siapapun. Sekalipun dengan diriku sendiri. Disini aku memulai
untuk membuka diriku yang baru dengan orang orang baru di sekitar yang selalu
berusaha untuk mengenalku lebih jauh dengan apa adanya.
Aku hanya mencoba menikmati
setiap waktu yang telah berlalu dengan sia sia. Hanya dengan melakukan
rutinitas layaknya mahasiswa baru di salah satu kampus kota Malang ini. banyak
orang baru yang ku temui dengan berbagai macam karakter. Seketika aku menjalin
komunikasi yang bagus dengan sahabat lama di sebuah jejaring sosial. Walaupun aku
mengenalnya baru hampir setahun lamanya, namun aku sudah merasakan kenyamanan
yang ada pada dirinya sejak lama. Setahun yang lalu aku merasakan hal nyaman
itu yang belum pernah ku temui sebelumnya. Entah Karena apa, aku malah memilih
orang lain untuk menemani setiap langkahku untuk menuju ke masa yang akan datang.
Dan seperti yang ada pada benakku, itu hanya bersifat sementara. Sahabat lamaku
sudah menemukan orang pantas untuk di dapatnya, dan aku hanya bisa melihatnya
dengan rasa sedikit menyesal yang ku rasakan. Kesalahan yang selalu ku lakukan
daridulu adalah tidak pernah menyadari bahwa aku sudah mnedapatkan yang pantas
dengan yang ku butuhkan, namun aku menyianyiakannya begitu saja.
Tak lama setelah itu, aku
mendapatinya sedang tidak enak hati, dan hanya kesedihan yang dirasakannya. Aku
datang padanya yang berniat untuk membatunya keluar dari suasana tersebut. Aku hanya
bisa membantunya lewat sosial media karena kesibukan yang kita punya selalu menemani.
Ingin hati bertemu dengan dirinya, menatap wajah indahnya dan mendengar suara
merdunya secara langsung. Namun, karena kendala yang kita punya, kita hanya
bisa melakukannya di sebuah sosial media. Kita asik dengan dunia yang kita
ciptakan sendiri di dunia maya. Jika rindu menyelimuti, aku hanya bisa menatap
wajahnya di foto dalam smartphoneku. Di
satu hari, aku mengajaknya bertemu dengan alasan menemaniku minum secangkir
kopi.
Hanya beberapa menit aku
menunggunya di sebuah kafe yang biasa aku kunjungi, dia datang dengan membawa
senyum manisnya untukku. Sedikit canggung rasanya, seumur hidup baru pertama
kali aku berbincang dengannya. Gembira, bahagia aku rasakan. Aku mulai
mengenalnya lebih jauh lagi di malam itu. Dia banyak bercerita tentang dirinya
dan kenangannya, sebaliknya dengan diriku.
Semua berawal dari secangkir kopi
yang ku anggap itu tidak penting, menjadi penting. Yang awalnya rasanya biasa
saja, menjadi luar biasa. Dari hari kehari, dia tak lupa untuk menghubungiku
walau sekedar say hallo padaku. Dan yang
ku suka pada dirinya, dia selalu memberiku ucapan selamat pagi yang selama ini
sudah tidak pernah ku rasakan hangatnya ucapan itu dari seorang pria.
Harapanku hanya ingin bersama
dirinya setiap waktu, jalan pahit manis pun ku lalui asalkan dengan dirinya. Walaupun
dia hanya menganggapku seorang gadis biasa yang seperti ini adanya, tapi aku
menganggapnya seorang pria yang mempunyai hal lebih dari pria lain.
***
Terimakasih atas semua waktu yang
kau berikan padaku selama ini, aku berusaha menikmatinya dengan sepenuh hati.
