Pages

SOnya Bangkit Iswara

Jumat, 05 Desember 2014

MOVING ON

Move on itu objeknya tidak harus orang kok”. Masih ingat betul aku dengan kata kata itu. Kakak perempuanku dulu pernah bilang kalimat itu di aku sewaktu hubungan spesialku dengan mantanku yang dulu berakhir begitu saja tanpa sebab yang spesifik. Jika aku ditanya “Sonya, apa kamu sudah move on?” pasti dengan tegas aku akan menjawab, “sudah”. Karena apa? Jujur aku move on bukan karena adanya orang lain di luar sana, tapi aku sudah merasakan bahagia dengan caraku sendiri. Semua yang aku lakukan berniatan untuk membahagiakan diriku sendiri untuk yang pertama. Entah semua orang menilai aku orang macam apapun itu, tapi ya ini aku.
**********
Selama aku masuk dunia perkuliahan aku mencoba dengan perlahan menunjukkan pada mereka semua siapa sebenarnya diriku. Apa pun penilaian mereka kepadaku aku terima itu. Di sana aku bertemu banyak orang, bertemu bebagai macam karakter orang. Berawal dari situ lah aku mempelajari memperlakukan orang dengan sebaik mungkin dengan banyak perbedaan karakter. Aku senang kenal dengan mereka, tapi entah apa yang mereka rasakan ketika mengenalku. Yang pasti niatku hanya satu, membuat mereka nyaman dan bahagia di sekitarku. Aku menyukai adanya mereka walaupun mereka belum tentu menyukai adanya aku. Aku hanya berusaha bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan padaku.
**********
Tidak lama aku masuk dunia perkuliahan, aku mengenal seseorang yang menurutku ya lelaki yang sederhana dimataku. Aku suka caranya merespon setiap ucapanku, aku suka caranya memperlakukanku di depan teman temannya. Aku suka semua caranya untuk mengenalkanku pada dunianya. Dan jujur, selama ini aku baru bertemu orang semacam dia pertama kali ini. dan aku suka itu.
**********
Setelah beberapa minggu aku mengenalnya, mengenal semua baik buruknya dia, rasa yang tidak seharusnya aku rasakan itu muncul untuknya. Ya untuk dirinya yang selalu berusaha ada di saat aku membutuhkan kehadirannya ataupun tidak. Dia yang selalu berusaha terlihat baik dimataku, namun dia tetap menjadi dirinya sendiri. Itu yang aku suka dari dirinya.
**********

Terkadang aku berfikir, apakah dia masih mengharapkan masa lalunya kembali untuk mewarnai hari harinya lagi? Walaupun aku berusaha untuk tidak berfikir seperti itu, namun pertanyaan itu sangat melilitku dan membuatku merasakan sakit hati yang tak tertahan kan. Aku sempat berdoa, “Tuhan, jikalau dia memang terbaik untukku, tolong selalu dekatkan aku padanya. Jikalaupun Kau tak memberiku jalan untuk bersamanya, berikan jalan yang terbaik untukku dan untuk dirinya.“
»»  READMORE...

Kamis, 01 Mei 2014

Numpang Lewat

Hallo guys, Sonya mau curhat dikit nih. Soalnya bingung mau curhat ke siapa. Pasti temen temenku semuanya udah pada bosen aku bikin tempat curhat. Soalnya yang aku curhatin ya itu itu mulu pembahasannya. Langsung aja deh ya.
***
Pertama aku pengen Tanya ke kalian. Kalian pernah kan kangen sama seseorang ? kanget banget pernah ? kanget banget sama seseorang yang kalian sayang, pasti pernah dong ya ? nah permasalahanku di situ guys. Aku kangen banget sama seseorang, dan aku sayang banget sama itu orang, tapi entah ya dia ngerasain hal yang sama apa nggak. Yang jelas aku kangen banget sama si dia. Mau chatting? dianya nggak mau nge-read, mau telfon ? nggak mungkin banget, di chat aja nggak mau nge-read apa lagi di telfon, ya nggak ? nah yang terakhir ini tambah nggak mungkin, di ajak ketemuan ?  impossible banget malah. Di chat nggak mau nge-read. Di telfon, enggak juga deh. Di ajak ketemuan, daripada sakit hati mending nggak usah sekalian aja, ya kan ? soalnya takut jawabannya si doi nggak sama kayak pengennya hati.
Apa yang kalian lakuin misalkan kalian itu udah ngelakuin apa aja buat dia, intinya berkorbanlah buat dia, tapi dia tanggapannya biasa aja ? parahnya dia kayak nggak punya salah gitu, gimana rasanya ? sakit ? pasti. Nah itu yang aku rasain. Entah si doi emang bener bener nggak peka sama yang aku lakuin, apa si dianya cuek gitu sama apa yang aku lakuin buat dia. Yang jelas sakit hati. Memang sih udah sering sakit hati, tapi kalau di sakitin ya tetep ngerasain gimana nikmatnya sakit hati. Ada lagu dangdut yang liriknya itu kayak gini “lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini~”. Pernah denger kan ? kalau aku mah bilangnya sakit dua duanya. Namanya juga sakit, pasti nggak enak, ya kan ? semua manusia atau bahkan cuman kebanyakan manusia aja sih ya lebih milih enaknya daripada nggak enaknya. Tapi tepatnya semua manusia kali ya ? pokok intinya gitu lah.
Kadang kalau temen temen lagi longgar, mereka bersedia aja dengerin curhatanku. Tapi pasti jawaban mereka ada 2 macam. Kalau enggak “sabar ya” ya mereka Tanya “kenapa sih kamu nggak move on ?” BINGO! move on mah kalau di bibir doang gampang kang, yang susah itu kalau udah sampai hati, nah susah banget tuh. Kadang kalau temen temen udah bilang 2 kalimat itu ya, rasanya pengen jalan aja ninggal mereka di tempat situ. Soalnya aku udah capek denger 2 kalimat itu. Telinga sampai warnanya ijo denger 2 kalimat itu. (milih warna ijo soalnya yang merah udah mainstream)
Selanjutnya aku mau ceritain soal apa ya ? bingung mau cerita apa lagi. Kebanyakan dilema tentang si doi sih, sampai bingung kan mau apa lagi yang musti di tulis disini. Alasanku nulis ini nih, soalnya aku kasian temen temen yang suka aku curhatin soal problemaku. Pasti telinganya sampai merah semua dengerin apa yang aku ceritain. Selain itu mereka pasti sampai hafal apa yang bakalan aku curhatin. Sampek di luar kepala lah. Kayak perkalian gitu, udah hafal di luar kepala.

Next, apa lagi ya ? udah deh sekian itu dulu guys. Kesimpulannya kalian ambil sendiri ya, intinya gitu curhatanku malam ini. Thanks :) 
»»  READMORE...

Senin, 28 April 2014

Remember

Hallo guys, Sonya balik lagi nih. Niat ngeposting cerpen baru. Ya semoga kalian enjoy dengan cerpen baruku yang kali ini. Cerpen ini aku ambil dari kisahku sendiri yang sewaktu itu udah melewati ujian nasional. Yuk di baca dengan seksama ya.
***
Tepatnya waktu itu sebelum ujian nasional sih. H-3 mungkin ya, aku lagi tiduran di kamar kosku sendirian, kebetulan temen sekamarku lagi ke temennya. Nah waktu itu siang hari, niatnya mau tidur siang tapi nggak bisa tidur akhirnya lebih milih dengerin lagu dari tabletku. Waktu itu aku tiduran sambil liatin atap kamarku. Hening banget suasananya. Terus aku tengok ke arah kiri. Di dinding sebelah kiriku bagian atas ada tempelan kertas kertas warna merah yang membentuk huruf yang di susun menjadi sebuah kalimat. “HAPPY BIRTHDAY 17” kertas kertas yang tertempel di dinding mengatakan seperti itu, semakin lama aku melihatnya, aku semakin merasa sedih. Kertas kertas itu tertempel tepat tahun lalu pada bulan Mei. Kertas kertas tersebut adalah satu satunya dekorasi ulangtahunku yang masih tertempel rapi di dinding kamar kosku. “mungkin kalau nggak berkat si Vian dan teman teman, ulangtahunku nggak semeriah dulu” batinku mengatakan seperti itu.
***
Aku mencoba untuk memejamkan mataku, agar aku bisa istirahat dan tidak sakit. Karena satu minggu sebelum ujian nasional aku merasa kurang sehat, setiap hari aku mengkonsumsi vitamin atau suplemen makanan, agar aku nggak jatuh sakit. Tapi, yang ada aku tetep nggak bisa tidur. Akhirnya aku tetep tiduran, terdiam sambil ngeliatin atap kamar. Nggak tau kenapa tiba tiba aku berajak dari tempat tidurku, lalu aku berdiri di atasnya, dan apa yang aku lakukan ? aku melepas huruf huruf tersebut satu persatu. Tanpa aku sadari, ada air yang menetes perlahan dari mataku. Aku menangis, aku menangis saat aku melepas huruf huruf itu. Aku teringat kejutan kejutan sewaktu ulangtahunku itu. Aku menangis terharu dan memeluk sahabat sahabatku yang bersedia membantu Vian untuk mempersiapkan semua itu. Tanpa terasa kertas terakhir terlepas dari dinding kamar kosku.
***
Aku terduduk di tempat tidurku dan menumpuk kertas kertas itu. Mulai dari huruf H-A-P-P-Y sampai kertas terakhir yaitu 1-7. Lalu aku berdiri dan berjalan ke arah almari bajuku, aku mengambil box yang berbalut kertas berwarna biru muda dengan motif yang berwarna ungu. Aku kembali duduk di tempat tidurku, aku membuka box itu secara perlahan. Satu persatu barang yang ada di box itu aku keluarkan. Ada balon berwarna pink, lilin, kertas warna warni, 3 amplop kecil yang berwarna merah. Di setiap amplop ada secarik kertas di dalamnya, kertas tersebut terisi degan ratusan huruf yang tersusun dan menjadi sebuah kalimat yang indah. Kemudian aku memasukkan kertas kertas yang sudah ku tata dengan rapi ke dalam box. Aku semakin sedih saat membuka box dan melihat isi dari box tersebut. Semuanya dari Vian. Hanya itu yang mampu membuatku menangis saat mengingatnya.
***
Hari hari aku lewati dengan rasa semangat yang membalut tubuhku, aku mampu menyelesaikan ujian nasionalku dengan lancar. Aku merasa sangat lega saat mata pelajaran ujian nasional yang terakhir telah berakhir. Sebelum pulang ke kos untuk beres beres, semua kelas XII di kumpulkan di aula sekolah. Saat bapak kepala sekolah berbicara di depan semua kelas XII, aku melihat dari sela sela teman teman yang sedang duduk dan mendengarkan pembicaraan bapak kepala sekolah. Aku melihat Vian, aku melihatnya dari samping belakang. Dia sangat lucu, hidungnya mancung, lesung pipinya di sebelah kanan sangat terlihat saat dia tersenyum. Aku hanya mampu menikmatinya dengan cara seperti itu.
***
Tidak terasa bapak kepala sekolah sudah mengakhiri pembicaraanya, dan semua kelas XII di suruh pulang ke rumah masing masing. Aku berlari menuju gerbang sekolah, aku berjalan dengan cepat agar aku cepat sampai kos. Ternyata mobil ibuku sudah parkir di depan kos. Aku masuk ke dalam kamar kos dan mengemasi barang barangku untuk ku bawa pulang ke rumah. Di hari itu memang ibuku mengajak aku ke Jember, ayahku berkerja di Jember. Sesampai di rumah, aku langsung mandi. Aku bersiap siap untuk berangkat ke Jember bersama ibuku. Saat semuanya sudah siap, aku dan ibuku naik bus ke arah Surabaya. Aku dan ibuku sampai di Surabaya pukul 18.00 WIB. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Jember. Saat di perjalanan aku mengantuk, dan aku tertidur di samping ibuku. Saat aku terbangun, aku melihat bulan purnama yang bersinar dengan cantik. Kemudian aku melihat handphoneku, aku membuka aplikasi chat dan melihat kontak Vian. Aku ingin menghubunginya, tapi aku takut mengganggunya. Rasa dilema itu menyelimutiku, lalu aku memutuskan untuk menghubunginya. Kemudian setelah beberapa menit aku berkomunikasi dengannya, tiba tiba dia menghilang. Entah kemana perginya.
***
Keesokan harinya, aku di tinggal di rumah sendirian di Jember. Aku berbaring di atas kasur udaraku dan melihat TV. Aku melihat handphoneku, aku merasakan hal yang sama seperti kemarin malam. Aku merasa dilema, aku ingin menghubungi Vian tapi aku takut. Lalu aku memutuskan untuk tidak menghubunginya.
***

Beberapa hari aku meninggalkan rumah, aku merindukan teman teman, terutama Vian. Aku lama tidak bertemu dengannya, lama tidak bercakap cakap dengan dirinya. Saat aku kesepian, aku sering menangis, aku teringat Vian. Vian yang dulu selalu ada untukku, yang di hatinya hanya ada aku dulu. Ya, itu dulu. Sekarang entah siapa yang ada di hatinya. Yang pasti aku selalu merindukan sosoknya. Ingin rasanya aku memeluk Vian, tapi itu tidak mungkin. Aku hanya mampu membayangkannya. Sering aku bermimpi tentang dirinya di saat aku tidur di malam hari. Apakah aku benar benar sangat merindukannya ?
»»  READMORE...

Minggu, 09 Februari 2014

curhat dikit boleh yaa

curhat dikit boleh ya guys ..
ini aku Sonya. Sonya Bangkit Iswara lengkapnya. sekarang aku duduk di bangku SMA kelas XII.
nggak tau kenapa akhir akhir ini aku jadi lebih suka sendirian daripada rame bareng temen temen. yang jelas yang aku rasain sakit hati tiap hari. sakit hati karena apa tau ? pasti nggak tau kan ? aku sakit hati karena aku berjuang, berkorban buat orang yang aku sayang. tapi orang itu nggak pernah menganggap keberadaanku disini. setiap hari aku ucapin selamat pagi buat dia, dan lain sebagainya. tapi apa balasannya dari dia ? NIHIL guys! sakit banget rasanya, tapi aku tetep terus terusan kayak gitu walaupun akhirnya aku juga nggak dapet apa apa. dan yang paling sakit adalah dia ternyata deket sama cewek lain, dan yang pasti lebih baik daripada aku. tapi aku terus terusan buat deketin dia. aku nggak peduli aku sama omongan orang yang nggak enak tentang aku. aku itu sayang sama dia, bahkan aku udah nggak tau harus gimana buktiinnya seperti apa lagi. apapun aku lakuin buat dia, sekalipun itu buruk di aku baik di dia tapi tetep aku lakuin buat dia. semua orang yang aku curhatin tentang perasaanku pasti jawabannya "udahlah, kamu jangan kayak gitu. kamu ini udah kelas XII, fokus sama kedepanmu. jangan seperti ini, semangat dong" memang aku awalnya semangat guys kalau lagi nggak kepikiran yang aneh aneh, lha ini ? aku kepikiran terus. kadang aku sampai benci sama aku sendiri, kenapa aku seperti ini. cuman sabar, sabar, dan sabar yang bisa aku lakuin. setiap hari aku berdoa buat dia. setiap hari. kadang pengen gitu teriak sekenceng kencengnya biar aku lepas dari kepenatan yang meluk aku begitu eratnya. kadang aku stres, frustasi. kadang juga aku musti munafik di depan temen temen, mereka kira senyum, tawaku tulus dari hati. tapi sebenernya itu topeng aja. bukan dari hati. kadang aku muak sama keadaan yang sebegitu rumitnya, setiap hari pula aku berdoa kepada Tuhan biar aku di beri kemudahan menjalani hari hariku yang rumit ini. kadang aku ngomong sama diriku sendiri "udahlah sonya, jangan lemah kayak gini. kamu bisa. masih ada Tuhan yang sayang sama kamu. semangat, buktiin ke dia kalau kamu bisa." tapi ujung ujungnya juga ya frustasi lagi, setres lagi. kalau udah stres berlebihan kayak gini nggak tau larinya kemana.
***
aku berharap semoga di luar sana nggak ada orang yang punya masalah kayak aku gini. soalnya rasanya itu sakit banget~
»»  READMORE...

Minggu, 26 Januari 2014

Sebatas Tempat Persinggahan


Di pagi yang cukup cerah ini, gadis cantik yang bernama Anindita telah memulai cerita barunya. Anindita Dewantari namanya, dia siswi di salah satu SMA favorit di kota tempat ia tinggal bersama ayah dan bundanya.  
***
Sinar matahari menyelinap masuk ke kamar Anindita. Anindita masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya yang empuk ditemani dengan boneka rilakkumanya yang cukup besar. Alarm Anindita berbunyi dengan kencangnya tepat di telinga Anindita. “ hmm, selamat pagi dunia “ ucap Anindita saat terbangun dari tidurnya yang lelap. Tepat pukul 04.45 Anindita beranjak dari tempat tidurnya untuk menunaikan ibadah subuh. Setelah itu dia dengan sigap bergegas untuk mandi.
“Dita..” teriak bunda Anindita di lantai bawah, karena kebetulan kamar Anindita betempat di lantai dua. “iya bunda, sebentar lagi turun” jawab Anindita dengan mempersiapkan segala kebutuhannya untuk berangkat ke sekolah. Tepat pukul 06.00, Anindita berangkat ke sekolah diantar oleh bunda dengan mobil putihnya. Selama di perjalanan Anindita sibuk dengan handphonenya yang selalu berdering.
Sesampainya di kos, Anindita langsung bergegas untuk berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, kelas Anindita sudah dipenuhi dengan teman-temannya yang asik bercengkrama dengan yang lain. “akhirnya sampai juga di kelas, Alhamdulillah” decak Anindita lirih. Pagi itu teman Anindita yang bernama Reza sudah datang di kelas. Reza adalah teman dekat Anindita, teman dekat yang dimaksud adalah bisa dibilang sebagai sahabat, tidak lebih. Hampir setiap pagi mereka berdua selalu bersama, walaupun melakukan hal yang tidak jelas. Contohnya mendengarkan lagu berdua, curhat dan sebagainya.
“Aku udah mempersiapkan semuanya buat hari ulang tahun si Vian.” Ucap Anindita kepada Arum teman sebangku Anindita saat itu. Vian adalah pacar Anindita pada saat itu. Mereka berdua menjalani hubungan tersebut selama satu tahun lebih. Suka duka mereka lalui bersama. “iyakah? Kamu kasih apa nanti si Vian? “ respon Arum. “mau aku kasih jam tangan sama dompet aja kali ya?” jawab Anindita dengan tenang. “iya-iya bagus, itu buat hari Senin kan? “ Tanya Arum sekali lagi. “ iya Arum” singkat Anindita.
Hari yang ditunggu-tunggu hampir tiba. Sebenarnya hari ulang tahun Vian hari Minggu, hanya saja Anindita merayakannya pada hari Senin, itu pun sepulang jam tambahan belajar di sekolahnya. Hari Minggu, tepatnya pada sore hari. Anindita seharian asik dengan handphonenya. Maksudnya Anindita asik chatting dengan Reza. Mereka berdua hampir setiap hari chatting, walaupun hanya sekedar bercanda ataupun cerita tentang keseharian mereka berdua.
Pukul 17.00, tiba-tiba perasaan Anindita berubah menjadi ganjal, entah apa yang dirasakannya. Belum sempat Anindita mengucapkan selamat ulang tahun untuk Vian, dengan mudahnya Vian memutuskan hubungan khususnya dengan Anindita. Ia hanya bisa diam, Anindita bingung harus bagaimana. Yang pasti Anindita terkejut dengan apa yang Vian putuskan. Perasaan Anindita ingin marah, menangis tapi Anindita berfikir bahwa dia harus tegar. Anindita tidak boleh seperti itu.
Tanpa pikir panjang, Anindita menceritakan apa yang barusan terjadi kepada Reza. Dan apa respon Reza? Reza tersentak seketika. Anindita juga tidak ingin merasakan  miris berkepanjangan. Tanpa ia sadari, Anindita telah meneteskan air matanya. Anindita tidak mampu membendung rasa sakit yang sedang ia rasakan sekarang ini. Anindita juga menceritakan semuanya kepada kakak perempuan yang sedang kuliah di luar kota saat itu. Kakak Anindita dan Reza hanya bisa memberi motivasi sekenanya, agar Anindita tetap tegar menghadapi apa yang dia alami sekarang ini. Dan yang pasti Anindita berstatus single sekarang.
Keesokan harinya, Anindita tetap berniat untuk merayakan ulang tahun Vian sepulang jam tambahan belajar di sekolahnya. Pukul 15.30, Anindita telah usai dengan tambahan belajarnya. “aku pulang dulu ya, kamu juga jangan lama-lama di sekolah, cepet pulang.” Ucap Reza dengan menepuk pundak Anindita dari belakang. “iya.” Jawab Anindita singkat. Dengan perasaannya yang tidak menentu, Anindita mempersiapkan untuk ulang tahun Vian. 15 menit kemudian, Vian ke kelas Anindita. Sebelumnya Anindita meminta Vian untuk datang ke kelas Anindita yang letaknya tidak jauh dari kelas Vian.
“Selamat ulang tahun Vian.” Ucap Anidita dengan senyum tipisnya. Vian hanya tersenyum dan berkata “kenapa harus repot-repot sih? Nggak usah kayak gini, aku udah seneng kok kalau kamu inget hari ulang tahunku”. “ya nggak papa kan selagi aku masih bisa“ jawab Anindita dengan menahan perasaan yang tidak menentu. Setelah mereka berdua merayakan ulang tahun itu, mereka berdua bergegas untuk pulang. Dengan menutup pintu kelas, dan hendak berjalan yang berlawanan arah dengan Vian, Anindita berpamitan dengan Vian “aku pulang dulu ya”. “lhoh kamu pulang sama aku aja, ya? “ ucap Vian memohon. Dengan pikiran yang abstrak, Anindita mengiyakan ajakan Vian. Sesampai di kos Anindita, “aku pulang sekarang ya? Kamu belum makan kan? Habis ini kamu makan ya? “ pamit Vian. Dengan berat hati Anindita menjawab “iya. kamu hati-hati ya”. Lanjut Anindita singkat.
Berminggu-minggu Anindita melalui harinya tanpa Vian. Anindita tetap berfikir positif, agar Anindita tetap merasa tegar dan mampu menghadapi setiap harinya. Pada akhir-akhir ini Anindita jadi lebih sering ngomong-ngomong sendiri, melamun, jarang makan dan lebih parahnya, Anindita yang tadinya anak yang cukup ramai, ia sekarang menjadi anak yang pendiam. Itu penilaian Reza pada Anindita.
“menurutmu, aku anaknya seperti apa sih Za? “ Tanya Anindita kepada Reza yang pada saat itu mereka sedang duduk berdua di kelasnya. “hmmm, menurutku ya. Menurutku kamu sekarang itu jadi lebih pendiam dari biasanya, nggak tahu kenapa. Kenapa sih emangnya? Kamu lagi ada masalah ya? “ jawab Reza dengan penuh penasaran. “enggak kok Za, aku nggak kenapa-kenapa. Serius.” Jawab Anindita dengan memberikan senyum manisnya kepada Reza. “serius? Tapi aku ngerasa aneh sama kamu yang sekarang. Kamu ada masalah apaan sih? Masalah kamu sama Vian itu ya?” tanya Reza. Namun Anindita hanya terdiam. Udah Anindita, jangan seperti ini. Memang kamu nggak papa sekali-sekali lah kayak gini. Tapi jangan tiap hari dong. Aku kasihan sama kamu. Semangat Anindita, kamu pasti bisa. Masih ada aku yang selalu dukung kamu.” lanjut Reza dengan senyumnya yang menyejukkan hati. “iya Reza, makasih ya.” Lagi-lagi Anindita menjawab dengan senyum manisnya.
Setiap hari Reza selalu menghubungi Anindita melalui media apapun. Pagi, siang, sore dan malam, mereka tetap berkomunikasi. Sampai pada akhirnya Reza mengutarakan apa yang selama ini ia rasakan, “Anindita..” pesan singkat Reza masuk ke dalam handphone Anindita. “iya Reza, apa?” jawab Anindita dengan santai. “aku sayang kamu”. Isi pesan singkat Reza dibaca Anindita dengan penuh rasa terkejut. Anindita merasa ada yang salah dengan Reza akhir-akhir ini, mulai dari perhatian dengan Anindita saat Anindita sakit sampai pada saat Anindita belum makan pun selalu diperingatkan oleh Reza. “serius ya anak orang ini?” Tanya hati Anindita yang masih dalam keadaan terkejut. “Reza, kamu serius?“ akhirnya Anindita memberanikan diri untuk bertanya kepada Reza walaupun melalui pesan singkat. 3 menit kemudian Reza membalas pesan singkat Anindita, “iya Anindita, aku serius”. Anindita masih tidak percaya dengan apa yang Reza lakukan.
***
Setelah satu bulan Anindita melalui hari-harinya tanpa Vian, tanpa Anindita sadari ia di dekati oleh teman lamanya yang kebetulan beda sekolah dengan Anindita. Krisma namanya. Selama empat hari Krisma mendekati Anindita, ia tidak peka dengan apa yang telah dilakukan Krisma kepadanya. Tidak lama setelah itu kejadian yang tidak pernah difikirkan oleh Anindita pun terjadi. Krisma mengutarakan isi hatinya kepada Anindita. Krisma ingin Anindita mengisi hatinya yang kosong. Namun dengan tegas, Anindita menolaknya dengan berbagai alasan yang dasarnya tidak ingin menyakiti Krisma pada suatu saat nanti. Setelah itu, pada pukul 21.00, Anindita menceritakan pada kakaknya yang kuliah di kota sebelah. Ivan namanya. “kak, kamu tahu? Aku tadi habis ditembak sama cowok. Temanku sendiri, tapi beda sekolah sama aku”. Send. Pada saat itu Anindita chatting dengan kak Ivan. Tidak lama kemudian, kak Ivan menjawab chat dari Anindita. “terus gimana dik? Kamu terimakah?”. “ya enggaklah kak, gila apa aku nerima dia. Aku kan belum kenal jauh sama dia”. Jawab Anindita. Selang beberapa menit, kak Ivan membalas chat dari Anindita. “syukurlah dik kalau gitu, hehe”. “lhoh, maksudnya kak Ivan apa? Kok gitu ?”. Jawab Anindita dengan penuh penasaran. “ya berartikan kamu belum punya orang dik”. Jawab kak Ivan.
Setelah beberapa lama mereka chatting, kak Ivan juga melakukan hal yang sama dengan apa yang telah Krisma lakukan sebelumnya. Ya, kak Ivan menyatakan perasaanya kepada Anindita. Di hari yang sama dengan Krisma. Dengan penuh rasa bingung, Anindita menolak pertanyaan kak Ivan yang isinya ingin Anindita menjadi tambatan hatinya. Anindita memiliki alasan yang kuat kenapa ia menolak kak Ivan. Alasan Anindita adalah karena kak Ivan sudah memiliki perempuan lain, di sisi lain Anindita juga tidak ingin mejalani hubungan yang khusus dengan kak Ivan. Kesimpulannya adalah Anindita ditembak dengan 2 cowok di hari yang sama dan selisih jam yang tidak begitu lama.
***
Seminggu setelah kejadian tersebut telah berlalu. Anindita masih saja melewati hari-harinya dengan suasana yang monoton. Namun, Reza masih setia menemani Anindita kesana kemari semau Anindita. Padahal, Anindita tidak pernah memaksa Reza untuk menuruti apa kata Anindita. Seperti itu lah ketulusan hati seorang pria yang setia kepada seorang wanita. Ujian akhir semester ganjil telah usai, biasanya tradisi di sekolah Anindita setelah ujian akhir semester adalah kegiatan futsal antar kelas baik putra maupun putri. Seminggu waktu futsal berlangsung di sekolah Anindita. Selama kegiatan futsal berlangsung, Anindita selalu melihat kegiatan tersebut dengan teman-temannya. Sebenarnya pada saat kegiatan futsal berlangsung, salah satu cowok yang tidak Anidita kenal diam-diam memandangi Anindita dari kejauhan. Tidak lama kemudian, Anindita sering berkomunikasi dengan cowok tersebut. Namanya adalah Nugraha. Nugraha adalah salah satu murid di sekolah Anindita namun beda kelas dengannya.
Kurang lebih 4 minggu mereka berkomunikasi, tiba-tiba Nugraha tidak memberi kabar sama sekali kepada Anindita. Padahal Anindita kesana kemari mencari kabar tentang Nugraha. Anindita merasa capek dengan semuanya. Akhirnya Anindita menyerah mencari kabar tentang Nugraha. Anindita membiarkan Nugaraha meninggalkannya tanpa kabar yang jelas. Tidak lama kemudian, seorang cowok teman Anindita yang tidak begitu akrab, jangankan akrab mereka ngobrol berdua pun tidak pernah. Cowok tersebut adalah Vio namanya. Nama yang cukup lucu bagi Anindita. Mereka pun sering bercanda walaupun hanya lewat sebuah social media yang mereka punya. Vio hanya sebatas teman dengan Anindita, karena pada akhir-akhir ini Anindita merasa kesepian dengan menghilangnya Reza secara tiba-tiba, membisunya Vian dan tidak ada kabar dari Nugraha.
Setelah 2 minggu mereka sering berkomunikasi, tidak jauh beda dengan Reza, Vian dan Nugraha, Vio meninggalkan Anindita tanpa sepatah kata pun. Anindita merasa bahwa ia sudah tidak dianggap sebagai seorang teman oleh Vio. Lantas Anindita bisa apa? Dia tidak tahu harus bagaimana menjalani semuanya. Belum lagi tidak lama setelah itu, Anindita mendapat kabar buruk. Fitnah Anindita menyebar kemana-mana, baik dari kelas paling awal sampai kelas paling akhir. Nama Anindita tercemar buruk dimata semua orang sekarang ini. Belum lagi ia memiliki masalah pribadi yang ia pendam sendiri. Anindita bingung harus bagaimana menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Apa dosa Anindita?
***
Tidak lama Anindita kehilangan Vio, Anindita mendapat kabar bahwa Vio sudah menempatkan hatinya ke hati seseorang. Sangat mengejutkan, orang tersebut adalah teman akrab Anindita. Anindita hanya bisa ikhlas dengan perginya Vio. Semakin hari Anindita semakin merasa kesepian. Dan semakin banyak pula Anindita meneteskan air matanya. Namun air mata itu tak ada artinya bagi Anindita. Yang terpenting adalah orang-orang tersayang Anindita mampu merasakan kebahagiaannya dengan cara mereka sendiri.
***
Selang beberapa hari, Vian mulai memperlihatkan batang hidungnya kepada Anindita. Yang pasti Anindita gembira dengan perubahan Vian sekarang ini. Akhir-akhir ini, Vian sering menanyakan dimana keberadaan Anindita. Paling tidak Vian meluangkan waktunya untuk mencari posisi Anindita dimana.
Tidak hanya Vian saja yang kembali masuk kedalam kehidupan Anindita, Nugraha juga memasuki proses kembali kepada Anindita. Disini ditegaskan bahwa Nugraha hanya dianggap sebatas seorang adik oleh Anindita. Karena apa? Anindita cukup sadar diri siapa Nugraha siapa Anindita. Anindita merasa bahwa ia tidak pantas dengan Nugraha. Nugraha terlalu indah untuk Anindita miliki. 
Namun dengan hadirnya kembali kehidupan Vian kepada Anindita, itu sudah membuat gadis cantik ini merasa senang. Paling tidak Vian masih mengingat dan menganggap kehadiran Anindita dari masa lalunya dan Vian siap untuk menjalani hari-harinya dengan penuh warna dari Anindita. Tidak hanya Anindita saja yang mewarnai kehidupan Vian, teman-temannya juga ikut mewarnai kehidupan Vian.
»»  READMORE...