Oh mungkin aku bermimpi menginginkan dirimu, untuk ada disini menemaniku. Oh mungkin kah kau yang jadi kekasih sejatiku, semoga tak sekedar harapku.
***
Di pagi hari yang cukup cerah, Anindita memulai lembaran barunya untuk aktivitasnya sebelumnya. Tepat pukul 6.15, Anindita berangkat ke sekolah dengan kakaknya yang kebetulan satu sekolah dengannya. “ oh mungkin aku bermimpi menginginkan dirimu, untuk ada di sini menemaniku. Oh mungkin kah kau yang jadi kekasih sejatiku, semoga tak sekedar harapku “ sepanjang perjalanannya ke sekolah, Anindita melantunkan lagu itu dengan penuh perasaan. Tak tau ada apa dengan Anindita di pagi itu, tak biasanya dia seperti itu.
***
‘ teeet teeeet !! ‘
Bel masuk berbunyi, tepat sekali hari ini hari Senin. Dimana semua siswa wajib untuk mengikuti upacara bendera. Kebetulan Anindita berdiri tepat di samping kelas XIA6. Iya memang Anindita berkelas di XIS1. Anindita memandang sebelah kanan tepat dia berdiri, disana nampak sosok pria dengan senyumnya yang manis. Ternyata pria itu adalah Okta. Okta adalah sosok pria yang slama ini Anindita impi-impikan. Tak lama setelah itu Okta berbalik arah dan melihat Anindita yang sedang menatapnya tajam. Bisa di tebak, senyum manis Okta mengembang di bibirnya dan kerlingan matanya terlihat semakin jelas. “ Tuhan, sungguh indahnya dia “ hati Anindita berbisik.
***
Semua berjalan apa adanya, tak ada yang terlalu istimewa.
Semua berjalan dengan datar, tapi pada saat istirahat Anindita di kejutkan dengan nampaknya sosok Okta di depannya. Dengan otomatis Anindita tersenyum pada Okta yang sedang membawa makanan. “ terimakasih Tuhan, Kau mempertemukanku dengannya lagi “. Lagi lagi hati Anindita yang berbicara.
***
Waktu berlalu sangat cepat. Sepulang sekolah, Anindita seperti biasa menunggu Okta di tempat duduk yang biasa mereka duduki bersama. Tak tau dan tak pernah terfikirkan Anindita, di kursi itu nampak sosok pria yang tinggi duduk di kursinya. Ternyata Ex dari Anindita. “ perasaanku mendadak buruk “ Anindita lirih. Tak lama kemudian, datanglah sahabat Anindita, Arum namanya. Arum menemani Anindita duduk di kursi itu. Pada dasarnya Arum menjadi sekat di antara Ex dan Anindita. Memang itu yang di harapkan Anindita dan Arum. Mereka bertiga pun ngobrol kesana kemari, sampai akhirnya datanglah Okta dengan membawa jaketnya yang berwarna putih. “ Okta, ini lho kamu di tunggu Anindita “ begitu keras suara Ex. “ lancang sekali anak ini ngomong seperti itu “ hati Anindita lirih. “ enggak, aku mau pulang aja. Aku mau betulin motorku “ tegas Okta. Dan pasti tau kan ? miris hati Anindita mendengar perkataan Okta. “ sukurin “ kata Ex. Anindita menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan, di maksudkan agar Anindita tetap nampak tenang. Namun apa yang terjadi?
***
“ Diam kamu ! sekali ini aja “ suara Anindita terdengar sangat keras dan kasar. Sampai sampai orang yang ada di tempat itu bisa mendengarnya sangat jelas. Tanpa basa basi Anindita meninggalkan tempat itu dengan langkah mantap. “ maksud aku bantuin kamu ! “ teriak Ex. Anindita berhenti di langkahnya, “ tapi cara kamu salah ! “ gerutu Anindita pada Ex. Dan kemudian Anindita melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan tempat itu. Pikiran Anindita tak karuan, nafas terengah engah. Pada siapa dia minta tolong?. “ kalau aku salah ngomong, aku minta maaf ! “ teriak Ex dengan sepenuh tenaganya. Mungkin itu di ujung penyesalan Ex. Tapi apa yang terjadi? Permintaan maaf Ex tak di gubris olehnya. Mungkin karena sikap keterlaluan Ex yang membuat Anindita tak menggubrisnya. Air mata ini rasanya ingin menetes untuk membasahi tanah hati Anindita.
***
“ kenapa aku harus mengenal Ex? Manusia tak punya sopan santun. Ingin sekali rasanya melenyapkannya dari bumi ini “ gerutu Anindita dalam hati saat perjalanannya ke rumah. “ karena separuh aku, dirimu .. “ lagu itu terdengar dari speaker mobil Anindita. Di mana lagu itu yang selalu mengingatkan Anindita pada Okta. “ Okta, aku salah apa? Sampai kamu bersikap seperti itu padaku. “ hati Anindita lembut. Di sini, tampak sekali ketulusan hati Anindita yang menyayangi Okta sepenuh hatinya. Anindita tak ingin kehilangan orang yang dia sayang untuk kesekian kalinya.
***
“ tak pernah setengah hati tuk mencintai dirimu, tuk memiliki dirimu. Setulus tulusnya jiwa ku serahkan semua hanya untukmu. Tak pernah aku niati untuk melukaimu atau meninggalkan dirimu, sesalku selalu bila tak sengaja aku buat kau menangis. Memiliki mencintai dirimu kasihku, tak akan pernah membuat diriku menyesal. Sungguh matiku, hidupku kan selalu membutuhkan kamu. “
