Di pagi yang cukup cerah ini, gadis cantik yang bernama Anindita telah memulai cerita barunya. Anindita Dewantari namanya, dia siswi di salah satu SMA favorit di
kota tempat ia tinggal bersama ayah dan bundanya.
***
Sinar matahari menyelinap masuk ke kamar Anindita. Anindita masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya
yang empuk ditemani dengan boneka rilakkumanya yang cukup besar. Alarm Anindita
berbunyi dengan kencangnya tepat di telinga Anindita. “ hmm, selamat pagi dunia
“ ucap Anindita saat terbangun dari tidurnya yang lelap. Tepat pukul 04.45
Anindita beranjak dari tempat tidurnya untuk menunaikan ibadah subuh. Setelah
itu dia dengan sigap bergegas untuk mandi.
“Dita..” teriak bunda Anindita
di lantai bawah, karena kebetulan kamar Anindita betempat di lantai dua. “iya
bunda, sebentar lagi turun” jawab Anindita dengan mempersiapkan segala
kebutuhannya untuk berangkat ke sekolah. Tepat pukul 06.00, Anindita berangkat
ke sekolah diantar oleh bunda dengan mobil putihnya. Selama di perjalanan
Anindita sibuk dengan handphonenya yang
selalu berdering.
Sesampainya di kos, Anindita
langsung bergegas untuk berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, kelas
Anindita sudah dipenuhi dengan teman-temannya yang asik bercengkrama dengan
yang lain. “akhirnya sampai juga di kelas, Alhamdulillah” decak Anindita lirih.
Pagi itu teman Anindita yang bernama Reza sudah datang di kelas. Reza adalah
teman dekat Anindita, teman dekat yang dimaksud adalah bisa dibilang sebagai
sahabat, tidak lebih. Hampir setiap pagi mereka berdua selalu bersama, walaupun
melakukan hal yang tidak jelas. Contohnya mendengarkan lagu berdua, curhat dan
sebagainya.
“Aku udah mempersiapkan
semuanya buat hari ulang tahun si Vian.” Ucap Anindita kepada Arum teman
sebangku Anindita saat itu. Vian adalah pacar Anindita pada saat itu. Mereka
berdua menjalani hubungan tersebut selama satu tahun lebih. Suka duka mereka
lalui bersama. “iyakah? Kamu kasih apa nanti si Vian? “ respon Arum. “mau aku
kasih jam tangan sama dompet aja kali ya?” jawab Anindita dengan tenang.
“iya-iya bagus, itu buat hari Senin kan? “ Tanya Arum sekali lagi. “ iya Arum”
singkat Anindita.
Hari yang ditunggu-tunggu
hampir tiba. Sebenarnya hari ulang tahun Vian hari Minggu, hanya saja Anindita
merayakannya pada hari Senin, itu pun sepulang jam tambahan belajar di
sekolahnya. Hari Minggu, tepatnya pada sore hari. Anindita seharian asik dengan
handphonenya. Maksudnya Anindita asik
chatting dengan Reza. Mereka berdua
hampir setiap hari chatting, walaupun
hanya sekedar bercanda ataupun cerita tentang keseharian mereka berdua.
Pukul 17.00, tiba-tiba perasaan
Anindita berubah menjadi ganjal, entah apa yang dirasakannya. Belum sempat
Anindita mengucapkan selamat ulang tahun untuk Vian, dengan mudahnya Vian
memutuskan hubungan khususnya dengan Anindita. Ia hanya bisa diam, Anindita
bingung harus bagaimana. Yang pasti Anindita terkejut dengan apa yang Vian
putuskan. Perasaan Anindita ingin marah, menangis tapi Anindita berfikir bahwa dia harus
tegar. Anindita tidak boleh seperti itu.
Tanpa pikir panjang, Anindita
menceritakan apa yang barusan terjadi kepada Reza. Dan apa respon Reza? Reza
tersentak seketika. Anindita juga tidak ingin merasakan miris berkepanjangan. Tanpa ia sadari,
Anindita telah meneteskan air matanya. Anindita tidak mampu membendung rasa
sakit yang sedang ia rasakan sekarang ini. Anindita juga menceritakan semuanya
kepada kakak perempuan yang sedang kuliah di luar kota saat itu. Kakak Anindita
dan Reza hanya bisa memberi motivasi sekenanya, agar Anindita tetap tegar
menghadapi apa yang dia alami sekarang ini. Dan yang pasti Anindita berstatus single sekarang.
Keesokan harinya, Anindita
tetap berniat untuk merayakan ulang tahun Vian sepulang jam tambahan belajar di
sekolahnya. Pukul 15.30, Anindita telah usai dengan tambahan belajarnya. “aku
pulang dulu ya, kamu juga jangan lama-lama di sekolah, cepet pulang.” Ucap Reza
dengan menepuk pundak Anindita dari belakang. “iya.” Jawab Anindita singkat.
Dengan perasaannya yang tidak menentu, Anindita mempersiapkan untuk ulang tahun
Vian. 15 menit kemudian, Vian ke kelas Anindita. Sebelumnya Anindita meminta
Vian untuk datang ke kelas Anindita yang letaknya tidak jauh dari kelas Vian.
“Selamat ulang tahun Vian.”
Ucap Anidita dengan senyum tipisnya. Vian hanya tersenyum dan berkata “kenapa
harus repot-repot sih? Nggak usah kayak gini, aku udah seneng kok kalau kamu
inget hari ulang tahunku”. “ya nggak papa kan selagi aku masih bisa“ jawab
Anindita dengan menahan perasaan yang tidak menentu. Setelah mereka berdua merayakan
ulang tahun itu, mereka berdua bergegas untuk pulang. Dengan menutup pintu
kelas, dan hendak berjalan yang berlawanan arah dengan Vian, Anindita
berpamitan dengan Vian “aku pulang dulu ya”. “lhoh kamu pulang sama aku aja,
ya? “ ucap Vian memohon. Dengan pikiran yang abstrak, Anindita mengiyakan
ajakan Vian. Sesampai di kos Anindita, “aku pulang sekarang ya? Kamu belum
makan kan? Habis ini kamu makan ya? “ pamit Vian. Dengan berat hati Anindita
menjawab “iya. kamu hati-hati ya”. Lanjut Anindita singkat.
Berminggu-minggu Anindita
melalui harinya tanpa Vian. Anindita tetap berfikir positif, agar Anindita
tetap merasa tegar dan mampu menghadapi setiap harinya. Pada akhir-akhir ini
Anindita jadi lebih sering ngomong-ngomong sendiri, melamun, jarang makan dan
lebih parahnya, Anindita yang tadinya anak yang cukup ramai, ia sekarang
menjadi anak yang pendiam. Itu penilaian Reza pada Anindita.
“menurutmu, aku anaknya seperti
apa sih Za? “ Tanya Anindita kepada Reza yang pada saat itu mereka sedang duduk
berdua di kelasnya. “hmmm, menurutku ya. Menurutku kamu sekarang itu jadi lebih
pendiam dari biasanya, nggak tahu kenapa. Kenapa sih emangnya? Kamu lagi ada
masalah ya? “ jawab Reza dengan penuh penasaran. “enggak kok Za, aku nggak
kenapa-kenapa. Serius.” Jawab Anindita dengan memberikan senyum manisnya kepada
Reza. “serius? Tapi aku ngerasa aneh sama kamu yang sekarang. Kamu ada masalah
apaan sih? Masalah kamu sama Vian itu ya?” tanya
Reza. Namun Anindita hanya terdiam. “Udah Anindita, jangan seperti ini. Memang kamu nggak papa sekali-sekali
lah kayak gini. Tapi jangan tiap hari dong. Aku kasihan sama kamu. Semangat
Anindita, kamu pasti bisa. Masih ada aku yang selalu dukung kamu.” lanjut Reza
dengan senyumnya yang menyejukkan hati. “iya Reza, makasih ya.” Lagi-lagi
Anindita menjawab dengan senyum manisnya.
Setiap hari Reza selalu
menghubungi Anindita melalui media apapun. Pagi, siang, sore dan malam, mereka
tetap berkomunikasi. Sampai pada akhirnya Reza mengutarakan apa yang selama ini
ia rasakan, “Anindita..” pesan singkat Reza masuk ke dalam handphone Anindita. “iya Reza, apa?” jawab Anindita dengan santai.
“aku sayang kamu”. Isi pesan singkat Reza dibaca Anindita dengan penuh rasa
terkejut. Anindita merasa ada yang salah dengan Reza akhir-akhir ini, mulai dari
perhatian dengan Anindita saat Anindita sakit sampai pada saat Anindita belum
makan pun selalu diperingatkan oleh Reza. “serius ya anak orang ini?” Tanya
hati Anindita yang masih dalam keadaan terkejut. “Reza, kamu serius?“ akhirnya
Anindita memberanikan diri untuk bertanya kepada Reza walaupun melalui pesan
singkat. 3 menit kemudian Reza membalas pesan singkat Anindita, “iya Anindita,
aku serius”. Anindita masih tidak percaya dengan apa yang Reza lakukan.
***
Setelah satu bulan Anindita
melalui hari-harinya tanpa Vian, tanpa Anindita sadari ia di dekati oleh teman
lamanya yang kebetulan beda sekolah dengan Anindita. Krisma namanya. Selama
empat hari Krisma mendekati Anindita, ia tidak peka dengan apa yang telah dilakukan
Krisma kepadanya. Tidak lama setelah itu kejadian yang tidak pernah difikirkan
oleh Anindita pun terjadi. Krisma mengutarakan isi hatinya kepada Anindita.
Krisma ingin Anindita mengisi hatinya yang kosong. Namun dengan tegas, Anindita
menolaknya dengan berbagai alasan yang dasarnya tidak ingin menyakiti Krisma
pada suatu saat nanti. Setelah itu, pada pukul 21.00, Anindita menceritakan
pada kakaknya yang kuliah di kota sebelah. Ivan namanya. “kak, kamu tahu? Aku
tadi habis ditembak sama cowok. Temanku sendiri, tapi beda sekolah sama aku”. Send. Pada saat itu Anindita chatting dengan kak Ivan. Tidak lama
kemudian, kak Ivan menjawab chat dari
Anindita. “terus gimana dik? Kamu terimakah?”. “ya enggaklah kak, gila apa aku
nerima dia. Aku kan belum kenal jauh sama dia”. Jawab Anindita. Selang beberapa
menit, kak Ivan membalas chat dari
Anindita. “syukurlah dik kalau gitu, hehe”. “lhoh, maksudnya kak Ivan apa? Kok
gitu ?”. Jawab Anindita dengan penuh penasaran. “ya berartikan kamu belum punya
orang dik”. Jawab kak Ivan.
Setelah beberapa lama mereka chatting, kak Ivan juga melakukan hal
yang sama dengan apa yang telah Krisma lakukan sebelumnya. Ya, kak Ivan
menyatakan perasaanya kepada Anindita. Di hari yang sama dengan Krisma. Dengan
penuh rasa bingung, Anindita menolak pertanyaan kak Ivan yang isinya ingin
Anindita menjadi tambatan hatinya. Anindita memiliki alasan yang kuat kenapa ia
menolak kak Ivan. Alasan Anindita adalah karena kak Ivan sudah memiliki
perempuan lain, di sisi lain Anindita juga tidak ingin mejalani hubungan yang
khusus dengan kak Ivan. Kesimpulannya adalah Anindita ditembak dengan 2 cowok di hari yang
sama dan selisih jam yang tidak begitu lama.
***
Seminggu setelah kejadian
tersebut telah berlalu. Anindita masih saja melewati hari-harinya dengan
suasana yang monoton. Namun, Reza masih setia menemani Anindita kesana kemari
semau Anindita. Padahal, Anindita tidak pernah memaksa Reza untuk menuruti apa
kata Anindita. Seperti itu lah ketulusan hati seorang pria yang setia kepada
seorang wanita. Ujian akhir semester ganjil telah usai, biasanya tradisi di
sekolah Anindita setelah ujian akhir semester adalah kegiatan futsal antar
kelas baik putra maupun putri. Seminggu waktu futsal berlangsung di sekolah
Anindita. Selama kegiatan futsal berlangsung, Anindita selalu melihat kegiatan
tersebut dengan teman-temannya. Sebenarnya pada saat kegiatan futsal
berlangsung, salah satu cowok yang tidak Anidita kenal diam-diam memandangi
Anindita dari kejauhan. Tidak lama kemudian, Anindita sering berkomunikasi
dengan cowok tersebut. Namanya adalah Nugraha. Nugraha adalah salah satu murid
di sekolah Anindita namun beda kelas dengannya.
Kurang lebih 4 minggu mereka
berkomunikasi, tiba-tiba Nugraha tidak memberi kabar sama sekali kepada Anindita.
Padahal Anindita kesana kemari mencari kabar tentang Nugraha. Anindita merasa
capek dengan semuanya. Akhirnya Anindita menyerah mencari kabar tentang
Nugraha. Anindita membiarkan Nugaraha meninggalkannya tanpa kabar yang jelas.
Tidak lama kemudian, seorang cowok teman Anindita yang tidak begitu akrab,
jangankan akrab mereka ngobrol berdua pun tidak pernah. Cowok tersebut adalah
Vio namanya. Nama yang cukup lucu bagi Anindita. Mereka pun sering bercanda
walaupun hanya lewat sebuah social media
yang mereka punya. Vio hanya sebatas teman dengan Anindita, karena pada
akhir-akhir ini Anindita merasa kesepian dengan menghilangnya Reza secara
tiba-tiba, membisunya Vian dan tidak ada kabar dari Nugraha.
Setelah 2 minggu mereka sering
berkomunikasi, tidak jauh beda dengan Reza, Vian dan Nugraha, Vio meninggalkan
Anindita tanpa sepatah kata pun. Anindita merasa bahwa ia sudah tidak dianggap
sebagai seorang teman oleh Vio. Lantas Anindita bisa apa? Dia tidak tahu harus
bagaimana menjalani semuanya. Belum lagi tidak lama setelah itu, Anindita
mendapat kabar buruk. Fitnah Anindita menyebar kemana-mana, baik dari kelas
paling awal sampai kelas paling akhir. Nama Anindita tercemar buruk dimata
semua orang sekarang ini. Belum lagi ia memiliki masalah pribadi yang ia pendam
sendiri. Anindita bingung harus bagaimana menyelesaikan masalah-masalah
tersebut. Apa dosa Anindita?
***
Tidak lama Anindita kehilangan
Vio, Anindita mendapat kabar bahwa Vio sudah menempatkan hatinya ke hati
seseorang. Sangat mengejutkan, orang tersebut adalah teman akrab Anindita.
Anindita hanya bisa ikhlas dengan perginya Vio. Semakin hari Anindita semakin
merasa kesepian. Dan semakin banyak pula Anindita meneteskan air matanya. Namun
air mata itu tak ada artinya bagi Anindita. Yang terpenting adalah orang-orang
tersayang Anindita mampu merasakan kebahagiaannya dengan cara mereka sendiri.
***
Selang beberapa hari, Vian mulai memperlihatkan batang
hidungnya kepada Anindita. Yang pasti Anindita gembira dengan perubahan Vian
sekarang ini. Akhir-akhir ini, Vian sering menanyakan dimana keberadaan
Anindita. Paling tidak Vian meluangkan waktunya untuk mencari posisi Anindita
dimana.
Tidak hanya Vian saja yang kembali masuk kedalam
kehidupan Anindita, Nugraha juga memasuki proses kembali kepada Anindita.
Disini ditegaskan bahwa Nugraha hanya dianggap sebatas seorang adik oleh
Anindita. Karena apa? Anindita cukup sadar diri siapa Nugraha siapa Anindita. Anindita
merasa bahwa ia tidak pantas dengan Nugraha. Nugraha terlalu indah untuk
Anindita miliki.
Namun dengan hadirnya kembali kehidupan Vian kepada
Anindita, itu sudah membuat gadis cantik ini merasa senang. Paling tidak Vian
masih mengingat dan menganggap kehadiran Anindita dari masa lalunya dan Vian
siap untuk menjalani hari-harinya dengan penuh warna dari Anindita. Tidak hanya
Anindita saja yang mewarnai kehidupan Vian, teman-temannya juga ikut mewarnai
kehidupan Vian.
