“Move on itu objeknya
tidak harus orang kok”. Masih ingat betul aku dengan kata kata itu. Kakak perempuanku
dulu pernah bilang kalimat itu di aku sewaktu hubungan spesialku dengan
mantanku yang dulu berakhir begitu saja tanpa sebab yang spesifik. Jika aku
ditanya “Sonya, apa kamu sudah move on?” pasti dengan tegas aku akan menjawab, “sudah”.
Karena apa? Jujur aku move on bukan karena adanya orang lain di luar sana, tapi
aku sudah merasakan bahagia dengan caraku sendiri. Semua yang aku lakukan
berniatan untuk membahagiakan diriku sendiri untuk yang pertama. Entah semua
orang menilai aku orang macam apapun itu, tapi ya ini aku.
**********
Selama aku masuk dunia perkuliahan aku mencoba dengan
perlahan menunjukkan pada mereka semua siapa sebenarnya diriku. Apa pun
penilaian mereka kepadaku aku terima itu. Di sana aku bertemu banyak orang,
bertemu bebagai macam karakter orang. Berawal dari situ lah aku mempelajari
memperlakukan orang dengan sebaik mungkin dengan banyak perbedaan karakter. Aku
senang kenal dengan mereka, tapi entah apa yang mereka rasakan ketika
mengenalku. Yang pasti niatku hanya satu, membuat mereka nyaman dan bahagia di
sekitarku. Aku menyukai adanya mereka walaupun mereka belum tentu menyukai
adanya aku. Aku hanya berusaha bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan
padaku.
**********
Tidak lama aku masuk dunia perkuliahan, aku mengenal
seseorang yang menurutku ya lelaki yang sederhana dimataku. Aku suka caranya
merespon setiap ucapanku, aku suka caranya memperlakukanku di depan teman
temannya. Aku suka semua caranya untuk mengenalkanku pada dunianya. Dan jujur,
selama ini aku baru bertemu orang semacam dia pertama kali ini. dan aku suka
itu.
**********
Setelah beberapa minggu aku mengenalnya, mengenal semua baik
buruknya dia, rasa yang tidak seharusnya aku rasakan itu muncul untuknya. Ya untuk
dirinya yang selalu berusaha ada di saat aku membutuhkan kehadirannya ataupun
tidak. Dia yang selalu berusaha terlihat baik dimataku, namun dia tetap menjadi
dirinya sendiri. Itu yang aku suka dari dirinya.
**********
Terkadang aku berfikir, apakah dia masih mengharapkan masa
lalunya kembali untuk mewarnai hari harinya lagi? Walaupun aku berusaha untuk
tidak berfikir seperti itu, namun pertanyaan itu sangat melilitku dan membuatku
merasakan sakit hati yang tak tertahan kan. Aku sempat berdoa, “Tuhan, jikalau
dia memang terbaik untukku, tolong selalu dekatkan aku padanya. Jikalaupun Kau
tak memberiku jalan untuk bersamanya, berikan jalan yang terbaik untukku dan
untuk dirinya.“
