Hallo guys, Sonya balik lagi nih.
Niat ngeposting cerpen baru. Ya semoga kalian enjoy dengan cerpen baruku yang
kali ini. Cerpen ini aku ambil dari kisahku sendiri yang sewaktu itu udah
melewati ujian nasional. Yuk di baca dengan seksama ya.
***
Tepatnya waktu itu sebelum ujian
nasional sih. H-3 mungkin ya, aku lagi tiduran di kamar kosku sendirian,
kebetulan temen sekamarku lagi ke temennya. Nah waktu itu siang hari, niatnya
mau tidur siang tapi nggak bisa tidur akhirnya lebih milih dengerin lagu dari
tabletku. Waktu itu aku tiduran sambil liatin atap kamarku. Hening banget
suasananya. Terus aku tengok ke arah kiri. Di dinding sebelah kiriku bagian
atas ada tempelan kertas kertas warna merah yang membentuk huruf yang di susun
menjadi sebuah kalimat. “HAPPY BIRTHDAY 17” kertas kertas yang tertempel di dinding
mengatakan seperti itu, semakin lama aku melihatnya, aku semakin merasa sedih.
Kertas kertas itu tertempel tepat tahun lalu pada bulan Mei. Kertas kertas
tersebut adalah satu satunya dekorasi ulangtahunku yang masih tertempel rapi di
dinding kamar kosku. “mungkin kalau nggak berkat si Vian dan teman teman,
ulangtahunku nggak semeriah dulu” batinku mengatakan seperti itu.
***
Aku mencoba untuk memejamkan
mataku, agar aku bisa istirahat dan tidak sakit. Karena satu minggu sebelum
ujian nasional aku merasa kurang sehat, setiap hari aku mengkonsumsi vitamin
atau suplemen makanan, agar aku nggak jatuh sakit. Tapi, yang ada aku tetep
nggak bisa tidur. Akhirnya aku tetep tiduran, terdiam sambil ngeliatin atap kamar.
Nggak tau kenapa tiba tiba aku berajak dari tempat tidurku, lalu aku berdiri di
atasnya, dan apa yang aku lakukan ? aku melepas huruf huruf tersebut satu
persatu. Tanpa aku sadari, ada air yang menetes perlahan dari mataku. Aku
menangis, aku menangis saat aku melepas huruf huruf itu. Aku teringat kejutan
kejutan sewaktu ulangtahunku itu. Aku menangis terharu dan memeluk sahabat
sahabatku yang bersedia membantu Vian untuk mempersiapkan semua itu. Tanpa
terasa kertas terakhir terlepas dari dinding kamar kosku.
***
Aku terduduk di tempat tidurku
dan menumpuk kertas kertas itu. Mulai dari huruf H-A-P-P-Y sampai kertas
terakhir yaitu 1-7. Lalu aku berdiri dan berjalan ke arah almari bajuku, aku
mengambil box yang berbalut kertas berwarna biru muda dengan motif yang
berwarna ungu. Aku kembali duduk di tempat tidurku, aku membuka box itu secara
perlahan. Satu persatu barang yang ada di box itu aku keluarkan. Ada balon
berwarna pink, lilin, kertas warna warni, 3 amplop kecil yang berwarna merah.
Di setiap amplop ada secarik kertas di dalamnya, kertas tersebut terisi degan
ratusan huruf yang tersusun dan menjadi sebuah kalimat yang indah. Kemudian aku
memasukkan kertas kertas yang sudah ku tata dengan rapi ke dalam box. Aku
semakin sedih saat membuka box dan melihat isi dari box tersebut. Semuanya dari
Vian. Hanya itu yang mampu membuatku menangis saat mengingatnya.
***
Hari hari aku lewati dengan rasa
semangat yang membalut tubuhku, aku mampu menyelesaikan ujian nasionalku dengan
lancar. Aku merasa sangat lega saat mata pelajaran ujian nasional yang terakhir
telah berakhir. Sebelum pulang ke kos untuk beres beres, semua kelas XII di
kumpulkan di aula sekolah. Saat bapak kepala sekolah berbicara di depan semua
kelas XII, aku melihat dari sela sela teman teman yang sedang duduk dan
mendengarkan pembicaraan bapak kepala sekolah. Aku melihat Vian, aku melihatnya
dari samping belakang. Dia sangat lucu, hidungnya mancung, lesung pipinya di
sebelah kanan sangat terlihat saat dia tersenyum. Aku hanya mampu menikmatinya
dengan cara seperti itu.
***
Tidak terasa bapak kepala sekolah
sudah mengakhiri pembicaraanya, dan semua kelas XII di suruh pulang ke rumah
masing masing. Aku berlari menuju gerbang sekolah, aku berjalan dengan cepat
agar aku cepat sampai kos. Ternyata mobil ibuku sudah parkir di depan kos. Aku
masuk ke dalam kamar kos dan mengemasi barang barangku untuk ku bawa pulang ke
rumah. Di hari itu memang ibuku mengajak aku ke Jember, ayahku berkerja di
Jember. Sesampai di rumah, aku langsung mandi. Aku bersiap siap untuk berangkat
ke Jember bersama ibuku. Saat semuanya sudah siap, aku dan ibuku naik bus ke
arah Surabaya. Aku dan ibuku sampai di Surabaya pukul 18.00 WIB. Kemudian kami
melanjutkan perjalanan ke Jember. Saat di perjalanan aku mengantuk, dan aku tertidur
di samping ibuku. Saat aku terbangun, aku melihat bulan purnama yang bersinar
dengan cantik. Kemudian aku melihat handphoneku, aku membuka aplikasi chat dan
melihat kontak Vian. Aku ingin menghubunginya, tapi aku takut mengganggunya.
Rasa dilema itu menyelimutiku, lalu aku memutuskan untuk menghubunginya.
Kemudian setelah beberapa menit aku berkomunikasi dengannya, tiba tiba dia
menghilang. Entah kemana perginya.
***
Keesokan harinya, aku di tinggal
di rumah sendirian di Jember. Aku berbaring di atas kasur udaraku dan melihat
TV. Aku melihat handphoneku, aku merasakan hal yang sama seperti kemarin malam.
Aku merasa dilema, aku ingin menghubungi Vian tapi aku takut. Lalu aku
memutuskan untuk tidak menghubunginya.
***
Beberapa hari aku meninggalkan
rumah, aku merindukan teman teman, terutama Vian. Aku lama tidak bertemu
dengannya, lama tidak bercakap cakap dengan dirinya. Saat aku kesepian, aku
sering menangis, aku teringat Vian. Vian yang dulu selalu ada untukku, yang di
hatinya hanya ada aku dulu. Ya, itu dulu. Sekarang entah siapa yang ada di
hatinya. Yang pasti aku selalu merindukan sosoknya. Ingin rasanya aku memeluk
Vian, tapi itu tidak mungkin. Aku hanya mampu membayangkannya. Sering aku
bermimpi tentang dirinya di saat aku tidur di malam hari. Apakah aku benar
benar sangat merindukannya ?
