Pages

SOnya Bangkit Iswara

Senin, 28 April 2014

Remember

Hallo guys, Sonya balik lagi nih. Niat ngeposting cerpen baru. Ya semoga kalian enjoy dengan cerpen baruku yang kali ini. Cerpen ini aku ambil dari kisahku sendiri yang sewaktu itu udah melewati ujian nasional. Yuk di baca dengan seksama ya.
***
Tepatnya waktu itu sebelum ujian nasional sih. H-3 mungkin ya, aku lagi tiduran di kamar kosku sendirian, kebetulan temen sekamarku lagi ke temennya. Nah waktu itu siang hari, niatnya mau tidur siang tapi nggak bisa tidur akhirnya lebih milih dengerin lagu dari tabletku. Waktu itu aku tiduran sambil liatin atap kamarku. Hening banget suasananya. Terus aku tengok ke arah kiri. Di dinding sebelah kiriku bagian atas ada tempelan kertas kertas warna merah yang membentuk huruf yang di susun menjadi sebuah kalimat. “HAPPY BIRTHDAY 17” kertas kertas yang tertempel di dinding mengatakan seperti itu, semakin lama aku melihatnya, aku semakin merasa sedih. Kertas kertas itu tertempel tepat tahun lalu pada bulan Mei. Kertas kertas tersebut adalah satu satunya dekorasi ulangtahunku yang masih tertempel rapi di dinding kamar kosku. “mungkin kalau nggak berkat si Vian dan teman teman, ulangtahunku nggak semeriah dulu” batinku mengatakan seperti itu.
***
Aku mencoba untuk memejamkan mataku, agar aku bisa istirahat dan tidak sakit. Karena satu minggu sebelum ujian nasional aku merasa kurang sehat, setiap hari aku mengkonsumsi vitamin atau suplemen makanan, agar aku nggak jatuh sakit. Tapi, yang ada aku tetep nggak bisa tidur. Akhirnya aku tetep tiduran, terdiam sambil ngeliatin atap kamar. Nggak tau kenapa tiba tiba aku berajak dari tempat tidurku, lalu aku berdiri di atasnya, dan apa yang aku lakukan ? aku melepas huruf huruf tersebut satu persatu. Tanpa aku sadari, ada air yang menetes perlahan dari mataku. Aku menangis, aku menangis saat aku melepas huruf huruf itu. Aku teringat kejutan kejutan sewaktu ulangtahunku itu. Aku menangis terharu dan memeluk sahabat sahabatku yang bersedia membantu Vian untuk mempersiapkan semua itu. Tanpa terasa kertas terakhir terlepas dari dinding kamar kosku.
***
Aku terduduk di tempat tidurku dan menumpuk kertas kertas itu. Mulai dari huruf H-A-P-P-Y sampai kertas terakhir yaitu 1-7. Lalu aku berdiri dan berjalan ke arah almari bajuku, aku mengambil box yang berbalut kertas berwarna biru muda dengan motif yang berwarna ungu. Aku kembali duduk di tempat tidurku, aku membuka box itu secara perlahan. Satu persatu barang yang ada di box itu aku keluarkan. Ada balon berwarna pink, lilin, kertas warna warni, 3 amplop kecil yang berwarna merah. Di setiap amplop ada secarik kertas di dalamnya, kertas tersebut terisi degan ratusan huruf yang tersusun dan menjadi sebuah kalimat yang indah. Kemudian aku memasukkan kertas kertas yang sudah ku tata dengan rapi ke dalam box. Aku semakin sedih saat membuka box dan melihat isi dari box tersebut. Semuanya dari Vian. Hanya itu yang mampu membuatku menangis saat mengingatnya.
***
Hari hari aku lewati dengan rasa semangat yang membalut tubuhku, aku mampu menyelesaikan ujian nasionalku dengan lancar. Aku merasa sangat lega saat mata pelajaran ujian nasional yang terakhir telah berakhir. Sebelum pulang ke kos untuk beres beres, semua kelas XII di kumpulkan di aula sekolah. Saat bapak kepala sekolah berbicara di depan semua kelas XII, aku melihat dari sela sela teman teman yang sedang duduk dan mendengarkan pembicaraan bapak kepala sekolah. Aku melihat Vian, aku melihatnya dari samping belakang. Dia sangat lucu, hidungnya mancung, lesung pipinya di sebelah kanan sangat terlihat saat dia tersenyum. Aku hanya mampu menikmatinya dengan cara seperti itu.
***
Tidak terasa bapak kepala sekolah sudah mengakhiri pembicaraanya, dan semua kelas XII di suruh pulang ke rumah masing masing. Aku berlari menuju gerbang sekolah, aku berjalan dengan cepat agar aku cepat sampai kos. Ternyata mobil ibuku sudah parkir di depan kos. Aku masuk ke dalam kamar kos dan mengemasi barang barangku untuk ku bawa pulang ke rumah. Di hari itu memang ibuku mengajak aku ke Jember, ayahku berkerja di Jember. Sesampai di rumah, aku langsung mandi. Aku bersiap siap untuk berangkat ke Jember bersama ibuku. Saat semuanya sudah siap, aku dan ibuku naik bus ke arah Surabaya. Aku dan ibuku sampai di Surabaya pukul 18.00 WIB. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Jember. Saat di perjalanan aku mengantuk, dan aku tertidur di samping ibuku. Saat aku terbangun, aku melihat bulan purnama yang bersinar dengan cantik. Kemudian aku melihat handphoneku, aku membuka aplikasi chat dan melihat kontak Vian. Aku ingin menghubunginya, tapi aku takut mengganggunya. Rasa dilema itu menyelimutiku, lalu aku memutuskan untuk menghubunginya. Kemudian setelah beberapa menit aku berkomunikasi dengannya, tiba tiba dia menghilang. Entah kemana perginya.
***
Keesokan harinya, aku di tinggal di rumah sendirian di Jember. Aku berbaring di atas kasur udaraku dan melihat TV. Aku melihat handphoneku, aku merasakan hal yang sama seperti kemarin malam. Aku merasa dilema, aku ingin menghubungi Vian tapi aku takut. Lalu aku memutuskan untuk tidak menghubunginya.
***

Beberapa hari aku meninggalkan rumah, aku merindukan teman teman, terutama Vian. Aku lama tidak bertemu dengannya, lama tidak bercakap cakap dengan dirinya. Saat aku kesepian, aku sering menangis, aku teringat Vian. Vian yang dulu selalu ada untukku, yang di hatinya hanya ada aku dulu. Ya, itu dulu. Sekarang entah siapa yang ada di hatinya. Yang pasti aku selalu merindukan sosoknya. Ingin rasanya aku memeluk Vian, tapi itu tidak mungkin. Aku hanya mampu membayangkannya. Sering aku bermimpi tentang dirinya di saat aku tidur di malam hari. Apakah aku benar benar sangat merindukannya ?
»»  READMORE...