Pages

SOnya Bangkit Iswara

Minggu, 26 Januari 2014

Sebatas Tempat Persinggahan


Di pagi yang cukup cerah ini, gadis cantik yang bernama Anindita telah memulai cerita barunya. Anindita Dewantari namanya, dia siswi di salah satu SMA favorit di kota tempat ia tinggal bersama ayah dan bundanya.  
***
Sinar matahari menyelinap masuk ke kamar Anindita. Anindita masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya yang empuk ditemani dengan boneka rilakkumanya yang cukup besar. Alarm Anindita berbunyi dengan kencangnya tepat di telinga Anindita. “ hmm, selamat pagi dunia “ ucap Anindita saat terbangun dari tidurnya yang lelap. Tepat pukul 04.45 Anindita beranjak dari tempat tidurnya untuk menunaikan ibadah subuh. Setelah itu dia dengan sigap bergegas untuk mandi.
“Dita..” teriak bunda Anindita di lantai bawah, karena kebetulan kamar Anindita betempat di lantai dua. “iya bunda, sebentar lagi turun” jawab Anindita dengan mempersiapkan segala kebutuhannya untuk berangkat ke sekolah. Tepat pukul 06.00, Anindita berangkat ke sekolah diantar oleh bunda dengan mobil putihnya. Selama di perjalanan Anindita sibuk dengan handphonenya yang selalu berdering.
Sesampainya di kos, Anindita langsung bergegas untuk berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, kelas Anindita sudah dipenuhi dengan teman-temannya yang asik bercengkrama dengan yang lain. “akhirnya sampai juga di kelas, Alhamdulillah” decak Anindita lirih. Pagi itu teman Anindita yang bernama Reza sudah datang di kelas. Reza adalah teman dekat Anindita, teman dekat yang dimaksud adalah bisa dibilang sebagai sahabat, tidak lebih. Hampir setiap pagi mereka berdua selalu bersama, walaupun melakukan hal yang tidak jelas. Contohnya mendengarkan lagu berdua, curhat dan sebagainya.
“Aku udah mempersiapkan semuanya buat hari ulang tahun si Vian.” Ucap Anindita kepada Arum teman sebangku Anindita saat itu. Vian adalah pacar Anindita pada saat itu. Mereka berdua menjalani hubungan tersebut selama satu tahun lebih. Suka duka mereka lalui bersama. “iyakah? Kamu kasih apa nanti si Vian? “ respon Arum. “mau aku kasih jam tangan sama dompet aja kali ya?” jawab Anindita dengan tenang. “iya-iya bagus, itu buat hari Senin kan? “ Tanya Arum sekali lagi. “ iya Arum” singkat Anindita.
Hari yang ditunggu-tunggu hampir tiba. Sebenarnya hari ulang tahun Vian hari Minggu, hanya saja Anindita merayakannya pada hari Senin, itu pun sepulang jam tambahan belajar di sekolahnya. Hari Minggu, tepatnya pada sore hari. Anindita seharian asik dengan handphonenya. Maksudnya Anindita asik chatting dengan Reza. Mereka berdua hampir setiap hari chatting, walaupun hanya sekedar bercanda ataupun cerita tentang keseharian mereka berdua.
Pukul 17.00, tiba-tiba perasaan Anindita berubah menjadi ganjal, entah apa yang dirasakannya. Belum sempat Anindita mengucapkan selamat ulang tahun untuk Vian, dengan mudahnya Vian memutuskan hubungan khususnya dengan Anindita. Ia hanya bisa diam, Anindita bingung harus bagaimana. Yang pasti Anindita terkejut dengan apa yang Vian putuskan. Perasaan Anindita ingin marah, menangis tapi Anindita berfikir bahwa dia harus tegar. Anindita tidak boleh seperti itu.
Tanpa pikir panjang, Anindita menceritakan apa yang barusan terjadi kepada Reza. Dan apa respon Reza? Reza tersentak seketika. Anindita juga tidak ingin merasakan  miris berkepanjangan. Tanpa ia sadari, Anindita telah meneteskan air matanya. Anindita tidak mampu membendung rasa sakit yang sedang ia rasakan sekarang ini. Anindita juga menceritakan semuanya kepada kakak perempuan yang sedang kuliah di luar kota saat itu. Kakak Anindita dan Reza hanya bisa memberi motivasi sekenanya, agar Anindita tetap tegar menghadapi apa yang dia alami sekarang ini. Dan yang pasti Anindita berstatus single sekarang.
Keesokan harinya, Anindita tetap berniat untuk merayakan ulang tahun Vian sepulang jam tambahan belajar di sekolahnya. Pukul 15.30, Anindita telah usai dengan tambahan belajarnya. “aku pulang dulu ya, kamu juga jangan lama-lama di sekolah, cepet pulang.” Ucap Reza dengan menepuk pundak Anindita dari belakang. “iya.” Jawab Anindita singkat. Dengan perasaannya yang tidak menentu, Anindita mempersiapkan untuk ulang tahun Vian. 15 menit kemudian, Vian ke kelas Anindita. Sebelumnya Anindita meminta Vian untuk datang ke kelas Anindita yang letaknya tidak jauh dari kelas Vian.
“Selamat ulang tahun Vian.” Ucap Anidita dengan senyum tipisnya. Vian hanya tersenyum dan berkata “kenapa harus repot-repot sih? Nggak usah kayak gini, aku udah seneng kok kalau kamu inget hari ulang tahunku”. “ya nggak papa kan selagi aku masih bisa“ jawab Anindita dengan menahan perasaan yang tidak menentu. Setelah mereka berdua merayakan ulang tahun itu, mereka berdua bergegas untuk pulang. Dengan menutup pintu kelas, dan hendak berjalan yang berlawanan arah dengan Vian, Anindita berpamitan dengan Vian “aku pulang dulu ya”. “lhoh kamu pulang sama aku aja, ya? “ ucap Vian memohon. Dengan pikiran yang abstrak, Anindita mengiyakan ajakan Vian. Sesampai di kos Anindita, “aku pulang sekarang ya? Kamu belum makan kan? Habis ini kamu makan ya? “ pamit Vian. Dengan berat hati Anindita menjawab “iya. kamu hati-hati ya”. Lanjut Anindita singkat.
Berminggu-minggu Anindita melalui harinya tanpa Vian. Anindita tetap berfikir positif, agar Anindita tetap merasa tegar dan mampu menghadapi setiap harinya. Pada akhir-akhir ini Anindita jadi lebih sering ngomong-ngomong sendiri, melamun, jarang makan dan lebih parahnya, Anindita yang tadinya anak yang cukup ramai, ia sekarang menjadi anak yang pendiam. Itu penilaian Reza pada Anindita.
“menurutmu, aku anaknya seperti apa sih Za? “ Tanya Anindita kepada Reza yang pada saat itu mereka sedang duduk berdua di kelasnya. “hmmm, menurutku ya. Menurutku kamu sekarang itu jadi lebih pendiam dari biasanya, nggak tahu kenapa. Kenapa sih emangnya? Kamu lagi ada masalah ya? “ jawab Reza dengan penuh penasaran. “enggak kok Za, aku nggak kenapa-kenapa. Serius.” Jawab Anindita dengan memberikan senyum manisnya kepada Reza. “serius? Tapi aku ngerasa aneh sama kamu yang sekarang. Kamu ada masalah apaan sih? Masalah kamu sama Vian itu ya?” tanya Reza. Namun Anindita hanya terdiam. Udah Anindita, jangan seperti ini. Memang kamu nggak papa sekali-sekali lah kayak gini. Tapi jangan tiap hari dong. Aku kasihan sama kamu. Semangat Anindita, kamu pasti bisa. Masih ada aku yang selalu dukung kamu.” lanjut Reza dengan senyumnya yang menyejukkan hati. “iya Reza, makasih ya.” Lagi-lagi Anindita menjawab dengan senyum manisnya.
Setiap hari Reza selalu menghubungi Anindita melalui media apapun. Pagi, siang, sore dan malam, mereka tetap berkomunikasi. Sampai pada akhirnya Reza mengutarakan apa yang selama ini ia rasakan, “Anindita..” pesan singkat Reza masuk ke dalam handphone Anindita. “iya Reza, apa?” jawab Anindita dengan santai. “aku sayang kamu”. Isi pesan singkat Reza dibaca Anindita dengan penuh rasa terkejut. Anindita merasa ada yang salah dengan Reza akhir-akhir ini, mulai dari perhatian dengan Anindita saat Anindita sakit sampai pada saat Anindita belum makan pun selalu diperingatkan oleh Reza. “serius ya anak orang ini?” Tanya hati Anindita yang masih dalam keadaan terkejut. “Reza, kamu serius?“ akhirnya Anindita memberanikan diri untuk bertanya kepada Reza walaupun melalui pesan singkat. 3 menit kemudian Reza membalas pesan singkat Anindita, “iya Anindita, aku serius”. Anindita masih tidak percaya dengan apa yang Reza lakukan.
***
Setelah satu bulan Anindita melalui hari-harinya tanpa Vian, tanpa Anindita sadari ia di dekati oleh teman lamanya yang kebetulan beda sekolah dengan Anindita. Krisma namanya. Selama empat hari Krisma mendekati Anindita, ia tidak peka dengan apa yang telah dilakukan Krisma kepadanya. Tidak lama setelah itu kejadian yang tidak pernah difikirkan oleh Anindita pun terjadi. Krisma mengutarakan isi hatinya kepada Anindita. Krisma ingin Anindita mengisi hatinya yang kosong. Namun dengan tegas, Anindita menolaknya dengan berbagai alasan yang dasarnya tidak ingin menyakiti Krisma pada suatu saat nanti. Setelah itu, pada pukul 21.00, Anindita menceritakan pada kakaknya yang kuliah di kota sebelah. Ivan namanya. “kak, kamu tahu? Aku tadi habis ditembak sama cowok. Temanku sendiri, tapi beda sekolah sama aku”. Send. Pada saat itu Anindita chatting dengan kak Ivan. Tidak lama kemudian, kak Ivan menjawab chat dari Anindita. “terus gimana dik? Kamu terimakah?”. “ya enggaklah kak, gila apa aku nerima dia. Aku kan belum kenal jauh sama dia”. Jawab Anindita. Selang beberapa menit, kak Ivan membalas chat dari Anindita. “syukurlah dik kalau gitu, hehe”. “lhoh, maksudnya kak Ivan apa? Kok gitu ?”. Jawab Anindita dengan penuh penasaran. “ya berartikan kamu belum punya orang dik”. Jawab kak Ivan.
Setelah beberapa lama mereka chatting, kak Ivan juga melakukan hal yang sama dengan apa yang telah Krisma lakukan sebelumnya. Ya, kak Ivan menyatakan perasaanya kepada Anindita. Di hari yang sama dengan Krisma. Dengan penuh rasa bingung, Anindita menolak pertanyaan kak Ivan yang isinya ingin Anindita menjadi tambatan hatinya. Anindita memiliki alasan yang kuat kenapa ia menolak kak Ivan. Alasan Anindita adalah karena kak Ivan sudah memiliki perempuan lain, di sisi lain Anindita juga tidak ingin mejalani hubungan yang khusus dengan kak Ivan. Kesimpulannya adalah Anindita ditembak dengan 2 cowok di hari yang sama dan selisih jam yang tidak begitu lama.
***
Seminggu setelah kejadian tersebut telah berlalu. Anindita masih saja melewati hari-harinya dengan suasana yang monoton. Namun, Reza masih setia menemani Anindita kesana kemari semau Anindita. Padahal, Anindita tidak pernah memaksa Reza untuk menuruti apa kata Anindita. Seperti itu lah ketulusan hati seorang pria yang setia kepada seorang wanita. Ujian akhir semester ganjil telah usai, biasanya tradisi di sekolah Anindita setelah ujian akhir semester adalah kegiatan futsal antar kelas baik putra maupun putri. Seminggu waktu futsal berlangsung di sekolah Anindita. Selama kegiatan futsal berlangsung, Anindita selalu melihat kegiatan tersebut dengan teman-temannya. Sebenarnya pada saat kegiatan futsal berlangsung, salah satu cowok yang tidak Anidita kenal diam-diam memandangi Anindita dari kejauhan. Tidak lama kemudian, Anindita sering berkomunikasi dengan cowok tersebut. Namanya adalah Nugraha. Nugraha adalah salah satu murid di sekolah Anindita namun beda kelas dengannya.
Kurang lebih 4 minggu mereka berkomunikasi, tiba-tiba Nugraha tidak memberi kabar sama sekali kepada Anindita. Padahal Anindita kesana kemari mencari kabar tentang Nugraha. Anindita merasa capek dengan semuanya. Akhirnya Anindita menyerah mencari kabar tentang Nugraha. Anindita membiarkan Nugaraha meninggalkannya tanpa kabar yang jelas. Tidak lama kemudian, seorang cowok teman Anindita yang tidak begitu akrab, jangankan akrab mereka ngobrol berdua pun tidak pernah. Cowok tersebut adalah Vio namanya. Nama yang cukup lucu bagi Anindita. Mereka pun sering bercanda walaupun hanya lewat sebuah social media yang mereka punya. Vio hanya sebatas teman dengan Anindita, karena pada akhir-akhir ini Anindita merasa kesepian dengan menghilangnya Reza secara tiba-tiba, membisunya Vian dan tidak ada kabar dari Nugraha.
Setelah 2 minggu mereka sering berkomunikasi, tidak jauh beda dengan Reza, Vian dan Nugraha, Vio meninggalkan Anindita tanpa sepatah kata pun. Anindita merasa bahwa ia sudah tidak dianggap sebagai seorang teman oleh Vio. Lantas Anindita bisa apa? Dia tidak tahu harus bagaimana menjalani semuanya. Belum lagi tidak lama setelah itu, Anindita mendapat kabar buruk. Fitnah Anindita menyebar kemana-mana, baik dari kelas paling awal sampai kelas paling akhir. Nama Anindita tercemar buruk dimata semua orang sekarang ini. Belum lagi ia memiliki masalah pribadi yang ia pendam sendiri. Anindita bingung harus bagaimana menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Apa dosa Anindita?
***
Tidak lama Anindita kehilangan Vio, Anindita mendapat kabar bahwa Vio sudah menempatkan hatinya ke hati seseorang. Sangat mengejutkan, orang tersebut adalah teman akrab Anindita. Anindita hanya bisa ikhlas dengan perginya Vio. Semakin hari Anindita semakin merasa kesepian. Dan semakin banyak pula Anindita meneteskan air matanya. Namun air mata itu tak ada artinya bagi Anindita. Yang terpenting adalah orang-orang tersayang Anindita mampu merasakan kebahagiaannya dengan cara mereka sendiri.
***
Selang beberapa hari, Vian mulai memperlihatkan batang hidungnya kepada Anindita. Yang pasti Anindita gembira dengan perubahan Vian sekarang ini. Akhir-akhir ini, Vian sering menanyakan dimana keberadaan Anindita. Paling tidak Vian meluangkan waktunya untuk mencari posisi Anindita dimana.
Tidak hanya Vian saja yang kembali masuk kedalam kehidupan Anindita, Nugraha juga memasuki proses kembali kepada Anindita. Disini ditegaskan bahwa Nugraha hanya dianggap sebatas seorang adik oleh Anindita. Karena apa? Anindita cukup sadar diri siapa Nugraha siapa Anindita. Anindita merasa bahwa ia tidak pantas dengan Nugraha. Nugraha terlalu indah untuk Anindita miliki. 
Namun dengan hadirnya kembali kehidupan Vian kepada Anindita, itu sudah membuat gadis cantik ini merasa senang. Paling tidak Vian masih mengingat dan menganggap kehadiran Anindita dari masa lalunya dan Vian siap untuk menjalani hari-harinya dengan penuh warna dari Anindita. Tidak hanya Anindita saja yang mewarnai kehidupan Vian, teman-temannya juga ikut mewarnai kehidupan Vian.

0 komentar:

Posting Komentar